Bukan Sekadar Rapat Formal, Cara Unik TIDAR Banten Perkuat Solidaritas Lewat Sport Day dan Budaya Ngopi

Bukan Sekadar Rapat Formal, Cara Unik TIDAR Banten Perkuat Solidaritas Lewat Sport Day dan Budaya Ngopi

CILEGON, LINTASBANTEN.CO.ID – Organisasi sayap pemuda partai politik sering kali diidentikkan dengan rapat kaku di dalam ruangan tertutup atau diskusi politik yang berat. Namun, stigma tersebut tampaknya ingin dipatahkan oleh Pengurus Daerah (PD) Tunas Indonesia Raya (TIDAR) Provinsi Banten.

Di bawah kepemimpinan anak muda yang energik, organisasi ini memilih pendekatan gaya hidup sehat dan bonding informal untuk memperkuat jaringan mereka di kota-kota besar Provinsi Banten.

Pada akhir pekan lalu, tepatnya Minggu (1/2/2026), suasana berbeda terlihat di kawasan Krakatau Sport Hall, Cilegon. Puluhan anak muda yang tergabung dalam PD TIDAR Banten bersama perwakilan Pengurus Cabang (PC) se-Provinsi Banten berkumpul bukan untuk berdebat, melainkan untuk berkeringat bersama dalam ajang olahraga kekinian.

Ketua PD TIDAR Banten, Hijaz Putra Junaidi Mahesa, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dirancang khusus untuk menjaga soliditas antar pengurus.

Kegiatan ini diberi tajuk ‘TIDAR Sport Day’. Tidak hanya terpusat di satu kota, kegiatan ini berkeliling ke berbagai wilayah di Banten untuk menjangkau seluruh kader.

“Kegiatan internal namanya TIDAR Sport Day yang dilakukan dua minggu sekali di PC-PC yang berbeda. Untuk TIDAR sendiri ada 8 PC,” ujarnya saat ditemui di Krakatau Spor Hall, Minggu (1/2/2026).

Konsistensi menjadi kunci utama dalam program ini. Hijaz mengungkapkan bahwa inisiatif ini bukanlah program dadakan, melainkan sudah berjalan sejak tahun sebelumnya.

Rotasi lokasi menjadi strategi jitu agar setiap cabang merasa memiliki tuan rumah dan tanggung jawab yang sama dalam menjamu rekan-rekan seperjuangannya.

“Jadi kita mulai dari tahun lalu rutin setiap dua minggu sekali pindah-pindah kadang di Serang, Tangsel ini sekarang di Cilegon,” tambah Hijaz.

Lebih dari sekadar mencari keringat, tujuan fundamental dari kegiatan ini adalah pembangunan karakter dan koneksi emosional.

Dalam organisasi kepemudaan yang berbasis sukarela dan kesamaan visi, kedekatan personal atau chemistry antar anggota adalah aset yang tak ternilai. Tanpa komunikasi yang luwes, gerak roda organisasi sering kali terhambat oleh birokrasi internal yang kaku. Hijaz menegaskan poin penting tersebut.

“Untuk mempererat komunikasi kita dan hubungan kita sesama PD dan PC. Karena di TIDAR sistemnya kekeluargaan,” ujarnya.

Pilihan olahraga yang dimainkan pun cukup variatif dan mengikuti tren anak muda masa kini. Jika sebelumnya mereka menjajal mini soccer yang memang sangat populer di kalangan komunitas pria, kali ini mereka mencoba Padel sebuah olahraga raket yang merupakan gabungan antara tenis dan squash yang tengah hype di kalangan Gen Z dan Milenial perkotaan.

Eksplorasi jenis olahraga baru ini juga menjadi simbol bahwa TIDAR Banten adalah organisasi yang dinamis dan adaptif terhadap tren.

“Sudah dua kali mini soccer, terus sekarang Padel dan rencananya dua minggu kedepan sebulan kedepan kita lebih banyak olahraga lagi yang bakal kita eksplor bareng-bareng,” tuturnya.

Pemilihan olahraga sebagai sarana team building ini tidak lepas dari latar belakang sang ketua. Hijaz Putra Junaidi Mahesa memiliki rekam jejak sebagai seorang atlet pelajar (student athlete).

Pengalaman berkompetisi hingga ke level internasional memberinya pemahaman mendalam tentang bagaimana olahraga dapat menempa mentalitas seseorang. Nilai-nilai sportivitas, kerja sama tim, dan komunikasi non-verbal di lapangan diyakini dapat diaplikasikan ke dalam manajemen organisasi.

“Karena kita tahu sendiri olahraga kebanyakan olahraga tim dan itu mengetes komunikasi yang baik. Karena saya juga sempat menjadi mantan student atlet yang dimana juga sempat tanding keluar negeri jadi saya tahu olahraga itu bisa membentuk karakter, bisa membentuk kerjasama tim, bisa membentuk kekompakan,” terangnya.

Menariknya, sesi olahraga ini hanyalah pembuka. Inti dari pertemuan mereka sering kali terjadi setelah peluit akhir berbunyi. Budaya ‘nongkrong’ yang produktif menjadi ciri khas anak muda Banten yang diadopsi oleh TIDAR.

Tidak langsung bubar jalan, para pengurus biasanya melanjutkan sesi dengan duduk bersama, menyeruput kopi, dan di sanalah ide-ide segar untuk program organisasi biasanya lahir.

Diskusi yang dilakukan dalam suasana santai pasca-olahraga sering kali lebih efektif dibandingkan rapat formal. Hambatan komunikasi runtuh seiring dengan rasa lelah yang cair dalam tawa. Hijaz menekankan bahwa budaya ngopi ini adalah ritual wajib yang menyempurnakan kegiatan fisik mereka.

“Kalau kita di TIDAR budayanya itu adalah ngopi jadi selain olahraga kita untuk bertukar pikiran, bertukar kegiatan apa yang ingin kita laksanakan itu diawali dengan kita dengan ngopi bareng-bareng,” ungkapnya.

Melalui kombinasi olahraga rutin dan diskusi santai ini, TIDAR Banten berupaya menciptakan ekosistem organisasi yang sehat, baik secara fisik maupun manajerial. Pendekatan humanis yang dilakukan Hijaz dan jajarannya menunjukkan wajah baru organisasi pemuda politik yang lebih relevan, asyik, dan inklusif bagi generasi muda di Banten, mulai dari Tangerang Selatan yang metropolitan hingga Cilegon yang industrial. (LUK/*)