JAKARTA, LINTASBANTEN.CO.ID – Pergerakan pasar modal dan nilai tukar mata uang domestik memberikan angin segar bagi para pelaku pasar, khususnya investor muda di kota-kota besar yang aktif menyatukan portofolio mereka.
Dinamika politik dan ekonomi di Amerika Serikat rupanya memberikan dampak langsung yang sangat positif terhadap pasar keuangan Indonesia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja gemilang dengan menguat 1,50% dan parkir di level 8.396,08 pada penutupan perdagangan Senin (23/2).
Peningkatan signifikan pada awal pekan ini merupakan kelanjutan dari tren positif yang sudah mulai terlihat sejak sesi pertama perdagangan. Antusiasme investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercermin dengan jelas dari tingginya likuiditas pasar.
Berdasarkan data perdagangan, nilai total transaksi di seluruh pasar menyentuh angka fantastis, yakni mencapai Rp 24,17 triliun. Putaran dana jumbo tersebut melibatkan perputaran sebanyak 49,6 miliar lembar saham yang ditransaksikan oleh para pelaku pasar sepanjang hari.
Apalagi pada kinerja sektoral, hari ini IHSG didorong oleh penguatan sektor secara keseluruhan tanpa kecuali. Sektor bahan baku atau IDXBASIC tampil sebagai primadona dengan mencatatkan kenaikan paling kuat, yakni sebesar 3,31%.
Posisi kedua dipimpin oleh sektor transportasi (IDXTRANS) yang juga melesat tajam dengan kenaikan 3,09%. Dominasi zona hijau di seluruh sektor ini menunjukkan optimisme yang merata, meskipun sektor properti (IDXPROPERT) mencatatkan kenaikan paling mini, yakni hanya sebesar 0,55%.
Katalis utama dari pasar saham ini bersumber dari sentimen global, tepatnya dari Amerika Serikat. Analis dari Phintraco Sekuritas menilai bahwa penawaran IHSG hari ini sudah sejalan dengan ekspektasi pasar.
Para investor menanggapi dengan sangat positif berita mengenai pembatalan kebijakan tarif timbal balik yang sebelumnya disetujui oleh Presiden Donald Trump. Kebijakan kontroversial tersebut secara resmi dibatalkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat pada hari Jumat (20/3).
Terkait dinamika kebijakan Amerika Serikat yang memengaruhi psikologis pasar tersebut, seorang analis Phintraco dalam catatan yang dirilis penutupan pasar hari ini memberikan pemutaran secara spesifik.
“Meskipun Presiden Trump kemudian menyatakan akan diberlakukan tarif global baru sebesar 15%, investor berharap perjanjian perdagangan antara AS dan Indonesia yang ditandatangani pekan lalu (19/2) dapat dicabut,”
Selain sentimen global dari Amerika Serikat, dorongan positif juga datang dari dalam negeri. Analis Phintraco mencatat adanya apresiasi dari pelaku pasar terhadap perkembangan regulasi terbaru.
Regulasi yang bertujuan untuk meningkatkan transparansi di lingkungan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini disambut baik dan menambah rasa percaya diri investor untuk mengalirkan dananya ke instrumen saham.
Euforia pembatalan tarif AS ini tidak hanya memanaskan lantai bursa, tetapi juga merambat ke pasar valuta asing. Mata uang Garuda berhasil menunjukkan gigi. Rupiah tercatat menguat 0,51%, membawanya ke level Rp 16.802 per dolar AS.
Penguatan ini sejalan dengan tren positif beberapa mata uang Asia Pasifik lainnya terhadap dolar AS. Peso Filipina dilaporkan memimpin penguatan regional dengan naik 1,01% menjadi 57,5680 per dolar AS, sementara ringgit Malaysia juga ikut terkerek naik sebesar 0,33% ke level 3,8895 per dolar AS.
Kondisi regional secara keseluruhan memang tengah berada dalam tren yang menggembirakan. Indeks saham di berbagai negara Asia serempak bergerak naik. Hang Seng Hong Kong memimpin bursa Asia dengan tajam 2,53%, disusul oleh VNI Vietnam yang naik 1,98%.
KOSPI Korea Selatan juga mencatatkan apresiasi sebesar 0,65%, STI Singapura menguat 0,46%, dan SET Thailand naik tipis 0,04%.
Situasi pasar yang menghijau di kawasan Asia tidak lepas dari dinamika politik di Washington. Seperti yang diberitakan sebelumnya oleh IDFinancials.com, agenda ekonomi Presiden Trump harus mengajukan proposal besar pasca keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan rencana tarif usulannya. (luq)


