LINTASBANTEN.CO.ID – PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD), salah satu entitas penting di bawah naungan Lippo Group yang beroperasi di wilayah Indonesia Timur, melaporkan kinerja keuangan yang cukup menantang sepanjang tahun buku 2025.
Emiten properti ini mencatatkan penurunan laba bersih yang cukup signifikan, memicu perhatian para investor ritel dan pelaku pasar modal.
Berdasarkan laporan keuangan audit yang dirilis, pada setahun penuh 2025, laba bersih terkonsolidasi perseroan ditakar susut 76,49 persen hanya membukukan Rp32,18 miliar, dibandingkan tahun 2024 yang saat itu mencapai Rp136,85 miliar.
Penurunan laba yang cukup drastis ini menjadi sinyal adanya tekanan berat pada sisi operasional maupun efisiensi biaya perseroan selama periode tersebut.
Pendapatan dan Margin Laba yang Tergerus
Tidak hanya laba bersih yang melandai, kinerja lini atas ataugaris atasperseroan juga mengalami pelemahan yang nyata. Hingga 31 Desember 2025, topline tercatat Rp295,33 miliar, turun 27,84 persen dari Rp409,30 miliar pada tahun sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan adanya perlambatan dalam realisasi penjualan atau serah terima unit properti yang dikelola oleh perseroan di kawasan Makassar dan sekitarnya.
Penurunan pendapatan ini berdampak langsung pada posisi neto setelah kewajiban pajak. Setelah pajak final, pendapatan neto menjadi Rp288,53 miliar, turun 27,66 persen dari Rp398,91 miliar.
Dengan beban pokok pendapatan sebesar Rp138,45 miliar membuat laba kotor turun 34,78 persen menjadi Rp150,08 miliar, dari Rp230,09 miliar pada tahun 2024.
Tekanan pada tingkat operasional tampaknya menjadi faktor utama yang menggerus profitabilitas GMTD. Laba usaha ambles 73,60 persen menjadi Rp35,53 miliar, padahal setahun sebelumnya masih Rp134,59 miliar.
Hal ini mengindikasikan bahwa biaya operasional tidak berkurang sebanding dengan penurunan pendapatan, sehingga margin laba usaha menjadi semakin tipis.
Selain kinerja operasional, faktor-faktor non-operasional juga ikut menekan perseroan. Beban keuangan bersih berubah menjadi minus Rp2,49 miliar dari posisi surplus Rp3,33 miliar.
Kondisi ini, ditambah dengan kerugian dari asosiasi ikut menekan, sehingga laba sebelum pajak menyusut 76,49 persen menjadi Rp32,82 miliar dari Rp140,27 miliar. Setelah pajak, laba tahun berjalan berhenti di Rp32,18 miliar.
Akibat penurunan kinerja ini, pemegang saham harus menerima kenyataan pahit terkait imbal hasil per saham. Kemerosotan itu membuat laba per saham dasar (EPS) turun tajam 76,49 persen menjadi Rp31,69, dibandingkan Rp134,78 pada 2024.
Penurunan EPS ini sering kali menjadi dasar bagi pasar untuk melakukan penyesuaian harga terhadap saham yang terkait di lantai bursa.
Meskipun laporan laba rugi terlihat kurang menggembirakan, ada sisi menarik yang terlihat pada neraca keuangan GMTD. Menariknya, di tengah penurunan laba, neraca malah membesar. Total aset naik 8,53 persen menjadi Rp1,40 triliun dari Rp1,29 triliun.
Peningkatan aset ini ditopang oleh beberapa komponen kunci yang menunjukkan bahwa perseroan masih terus melakukan pengembangan proyek.
Kas dan setara kas bertambah 10,84 persen menjadi Rp86,90 miliar, sementara persediaan proyek properti meningkat 11,16 persen menjadi Rp663,96 miliar.
Lonjakan pada pengadaan proyek properti ini bisa diartikan sebagai langkah optimisme perseroan untuk masa depan, di mana mereka terus membangun unit stok properti yang diharapkan dapat terjual pada tahun-tahun mendatang untuk memulihkan kinerja pendapatan.
Di sisi liabilitas, terjadi pertumbuhan 17,72 persen menjadi Rp545,29 miliar dari Rp463,19 miliar, terutama berasal dari kenaikan liabilitas kontrak berupa uang muka pelanggan.
Meskipun secara akuntansi masuk ke dalam kolom liabilitas, kenaikan uang muka pelanggan sebenarnya bisa menjadi indikasi positif adanya minat membeli dari konsumen yang belum bisa diakui sebagai pendapatan selama periode berjalan. Ekuitas naik 6,98 persen menjadi Rp859,24 miliar, dengan saldo laba ditahan mencapai Rp802,85 miliar.
Pasar modal segera merespons laporan kinerja yang menunjukkan penurunan laba tersebut. Beriringan dengan terbitnya pembukuan keuangan tahun penuh 2025 ini, pada perdagangan Kamis (26/2) saham GMTD tercatat koreksi 2,45 persen turun 50 poin di posisi Rp1.990.
Penurunan ini mencerminkan sikap hati-hati para investor dalam menanggapi dinamika bisnis properti yang sedang dihadapi oleh Lippo Group di wilayah Sulawesi Selatan tersebut. (luq)





