LINTASBANTEN.CO.ID – Upaya pencarian terhadap delapan orang yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten, memasuki babak baru. Tim SAR gabungan kini memutuskan untuk memperluas area penyisiran hingga ke kawasan Pulau Rakata dan Pulau Anak.
Rombongan yang menggunakan sebuah speedboat tersebut sebelumnya dilaporkan hilang saat tengah melakukan perjalanan untuk meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Kejadian yang menimpa para jurnalis dan kru kapal ini menarik perhatian luas, mengingat risiko tinggi yang dihadapi oleh para pekerja media dalam menjalankan tugas di zona berbahaya. Hingga saat ini, keberadaan delapan orang tersebut masih menjadi misteri, meskipun operasi pencarian telah dikerahkan secara maksimal sejak laporan pertama diterima.
Kawasan Pulau Rakata dan Pulau Anak kini menjadi titik sentral dalam misi penyelamatan ini. Pemilihan kedua lokasi ini didasarkan pada analisis koordinat terakhir serta kemungkinan pergerakan kapal yang terbawa arus di sekitar pusat aktivitas vulkanik. Tim gabungan tidak ingin melewatkan satu jengkal pun wilayah yang berpotensi menjadi lokasi terdamparnya speedboat tersebut.
Kasubdit Patroli Airud Polda Banten, AKBP Lis Handaya, menjelaskan bahwa operasi ini merupakan kolaborasi lintas instansi yang melibatkan kekuatan personel cukup besar. Tim ini bergerak dengan penuh perhitungan mengingat medan yang dihadapi adalah wilayah perairan terbuka yang berdekatan dengan gunung api aktif.
“Polairud bersama gabungan dari Basarnas melaksanakan kegiatan evakuasi pencarian terhadap diduga lima wartawan atau jurnalis yang pada hari Senin tanggal 7 September kemarin, 14.00, menuju ke aktivitas Gunung Anak Krakatau guna melaksanakan peliputan,” kata Lis.
Sebanyak 23 personel dari unsur Polairud, Basarnas, hingga Direktorat Baharkam Mabes Polri diterjunkan dalam operasi ini. Kekuatan personel yang cukup besar ini menunjukkan betapa seriusnya penanganan kasus hilangnya para awak media tersebut.
Meskipun semangat tim gabungan sangat tinggi, alam memberikan tantangan tersendiri. Salah satu faktor yang paling krusial dan harus diwaspadai oleh tim di lapangan adalah sebaran abu vulkanik. Sebagai wilayah yang berada di zona aktif erupsi, partikel abu vulkanik dapat mengganggu jarak pandang serta pernapasan para petugas penyelamat.
“Untuk abu vulkanik masih terpantau sebarannya di area sekitaran Banten,” kata Lis.
Di sisi lain, dari aspek hidrometeorologi, kondisi laut sebenarnya masih berada dalam batas yang memungkinkan untuk dilakukan penyisiran secara intensif. Data cuaca menunjukkan bahwa tinggi gelombang dan kecepatan angin di Selat Sunda saat ini relatif stabil, yang memberikan sedikit keuntungan bagi pergerakan kapal-kapal penyelamat.
“Untuk sementara dilaporkan, kita lihat situasi untuk laut, cuaca, ombak 0,5 sampai 1meter, angin dari arah timur menuju barat dengan kecepatan 5 sampai 10 knot,” ujarnya.
Sinergi antara prakiraan cuaca dan kesiapan alat utama sistem senjata (alutsista) SAR menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan tim penyelamat sekaligus mengoptimalkan waktu pencarian yang terus berjalan melawan waktu.
Pihak Basarnas Banten memastikan bahwa operasi akan terus dilakukan dengan mengikuti prosedur pencarian dan penyelamatan standar internasional. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menyatakan bahwa respon cepat langsung dilakukan begitu koordinat dan informasi mengenai hilangnya kontak tersebut terverifikasi.
“Setelah kami menerima itu, kami melakukan operasi SAR. Kami melakukan informasi yang didapat dan menggerakkan satu tim untuk melakukan pencarian di sekitar lokasi,” ujar Al Amrad.
Penyisiran di sekitar Pulau Rakata dan Pulau Anak dilakukan dengan harapan adanya tanda-tanda keberadaan korban, baik berupa serpihan kapal maupun sinyal darurat lainnya. Namun, hingga laporan terakhir diterima, titik terang mengenai keberadaan rombongan tersebut belum juga ditemukan.
“Tim kami sudah berangkat ke lokasi dan melakukan pencarian, sama berhubungan Pulau Rakata dan Pulau Anak dengan hasil sampai saat ini belum ditemukan,” katanya.
Daftar jurnalis yang teridentifikasi hilang adalah:
Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu Agency dan Donal, seorang jurnalis freelance. Sementara itu, Kapten Kapal bernama Warta, Surakman (ABK) dan Heriyanto (Guide). (luq)







