LINTASBANTEN.CO.ID – Riska Ayu Purnamasari, seorang peneliti asal Kota Cilegon yang memiliki ketertarikan pada bidang pangan lokal dan pertanian. Ia merupakan alumni berprestasi mulai dari sejak SD YPWKS 5 Cilegon, SMP Negeri 1 Cilegon dan SMA Negeri 1 Cilegon.
Kemudian Ia melanjutkan pendidikan sarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB). Lulus, dari IPB ia sempat bekerja di sebuah lembaga yang memiliki program pemberdayaan masyarakat, dan mulai tertarik dengan tema pangan lokal.
Setelah itu, dirinya mendapatkan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementrian Keuangan Republik Indonesia untuk menempuh pendidikan master dan doktor di University of Tsukuba, Jepang pada tahun 2013-2015. Dalam kesempatan itu, mom Riska semakin banyak mempelajari bidang studi pertanian dan pangan dari masyarakat dan pakar. Ia pun sempat menjadi student mom karena saat itu dikaruniai anak pertama yang lahir di Jepang.
Sepulangnya dari studi, ia aktif meneliti tentang pertanian dan pangan lokal, beberapa penelitiannya mengenai pertanian di Banten khususnya tentang produktivitas ubi kayu di Cilegon dan sudah dipublikasikan dalam jurnal internasional.
Riska pun tergabung dalam Innovation Center for Tropical Sciences, sebuah NGO yang bergerak di aplikasi pertanian berkelanjutan. Saat ini ia juga tergabung dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional sebagai peneliti post-doctoral. Riska kerap kali diundang untuk mengisi seminar, menjadi mentor, dan mengisi training baik secara offline maupun online tentang edukasi pertanian di lembaga pemerintahan dan universitas. Termasuk juga berkolaborasi sebagai praktisi mengajar di Universitas Musamus Merauke, Provinsi Papua Selatan.
Di tahun 2022, Riska bersama 30 peneliti dan akademisi nasional lainnya terpilih untuk menjalani program Science Leadership Collaborative (SLC) yang diselenggarakan oleh The Conversation Indonesia (TCID) berkolaborasi dengan pakar nasional dan internasional.
Di samping aktivitasnya menjadi peneliti, Riska juga merupakan seorang ibu dengan empat orang anak. Dalam perannya sebagai seorang ibu, Ia berusaha untuk menyeimbangkan peran sebagai ibu rumah tangga di ranah domestik dan peran publiknya.
Ia memiliki tekad untuk terus menyemangati dan menginspirasi ibu-ibu dengan berbagai latar belakang untuk terus berdaya. Bersama dengan ibu alumni beasiswa LPDP lainnya, Ia mendirikan komunitas berskala nasional untuk ibu yang bernama “Lab Belajar Ibu”. Ia meyakini bahwa dengan menjadi ibu bukan berarti menutup peluang untuk meraih mimpi, termasuk cita-cita untuk terus belajar.
Ibu bisa tetap mengejar pendidikan baik secara formal ataupun non-formal yang disesuaikan dengan kondisi, minat dan cita-cita ibu. Ibu perlu terus bersemangat untuk meningkatkan kapasitas diri agar kualitas pendidikan anak-anak semakin baik. Karena semangat belajar bagi seorang ibu merupakan hal yang penting untuk mendidik anak-anak generasi penerus bangsa.
Ia berpesan, tidak ada super mom, karena adanya adalah super team, kita perlu membangun support system baik dengan suami, orangtua, bahkan anak dengan multi peran yang kita jalani, kita juga perlu membangun komunikasi yang baik dengan anggota keluarga, misalnya mengkomunikasikan kepada anak, bahwa di waktu tertentu ibu perlu bekerja dulu, baru setelah itu bisa bermain bersama anak. Komunikasi dengan suami pun perlu dibangun dengan sehat, meminta izin kepada suami untuk aktivitas yang akan dilakukan, InsyaAllah dengan begitu suami akan support 100 persen.
Perjalanan menjadi ibu adalah perjalanan yang panjang, mungkin ada waktu dimana kita harus fokus pada peran domestik sebagai ibu rumah tangga, namun ada kalanya kita bisa kembali berkiprah di publik. Apapun cita-cita ibu, terus percaya dan berdoa bahwa suatu hari cita-cita itu akan tercapai. (red)







