Chandra Asri Group dan Mahasiswa Untirta Berkolaborasi Lewat ‘Jejak Asri’ demi Lingkungan

Chandra Asri Group dan Mahasiswa Untirta Berkolaborasi Lewat ‘Jejak Asri’ demi Lingkungan
Head of Corporate Communications Chandra Asri Group, Chrysanthi Tarigan saat penyerahan simbolis tempat pilah sampah kepada Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan kerja sama Untirta, Deden Hery Hermawan di Kampus Untirta, Senin (8/6/2026). Foto luqman/lintasbanten.co.id

LINTASBANTEN.CO.ID – Kesadaran generasi muda terhadap isu lingkungan kini bukan lagi sekadar tren, melainkan sebuah aksi nyata yang mulai terorganisir dengan baik. Hal ini terlihat jelas dalam kolaborasi terbaru antara mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten dengan PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group). Melalui program bertajuk “Jejak Asri”, kedua pihak sepakat untuk mengadu ide kreatif demi menjaga kelestarian bumi.

Bertempat di Kampus Untirta Banten pada Selasa, 8 Juni 2026, antusiasme mahasiswa terlihat memuncak dalam sesi Focus Group Discussion (FGD). Program ini dirancang bukan hanya sebagai ajang kumpul-kumpul biasa, melainkan sebagai wadah kritis bagi para intelektual muda untuk menumpahkan keresahan dan solusi mereka terhadap masalah lingkungan yang semakin kompleks.

Head of Corporate Communications Chandra Asri Group, Chrysanthi Tarigan, menekankan bahwa peran mahasiswa sangat sentral dalam membawa perubahan.

Menurutnya, perspektif segar dari anak muda seringkali menjadi kunci yang tidak terpikirkan oleh generasi sebelumnya.

“Akan ada banyak ide-ide baru dari generasi muda, mahasiswa banyak sekali ide dan menchalenge ide-ide lama dan muncul perspektif baru,” ujar Chrysanthi Tarigan, di Untirta, Senin, 8 Juni 2026.

Program Jejak Asri yang merupakan bagian dari kampanye besar “Indonesia Asri” ini memiliki pendekatan yang komprehensif. Setelah tahap penggalian ide melalui FGD, langkah selanjutnya adalah implementasi di lapangan. Chandra Asri Group tidak ingin program ini berhenti di atas kertas atau sekadar wacana di ruang seminar.

Aksi nyata tersebut akan diwujudkan dalam bentuk “Operasi Semut” atau kegiatan bersih-bersih lingkungan secara masif. Rencananya, agenda ini akan digelar pada Minggu, 14 Juni 2026 mendatang.

Menariknya, aksi ini tidak hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga merangkul karyawan perusahaan, masyarakat sekitar, hingga para relawan yang memiliki kepedulian serupa.

Tujuan utama dari pelibatan mahasiswa dalam program ini adalah untuk menciptakan ruang partisipasi yang lebih inklusif.

Chrysanthi menjelaskan bahwa sinergi antara dunia industri dan akademisi ini sangat relevan dengan target jangka panjang kampus.

“Jejak Asri ini sebenarnya kita ingin menimbulkan ruang partisipatif generasi muda untuk berkontribusi terhadap lingkungan, dgn cara mereka menimbulkan ide-ide kreatif. Sejalan juga dengan visi misi Untirta yang ingin menuju green kampus,” terangnya.

Untirta sendiri saat ini tengah serius berbenah untuk bertransformasi menjadi kampus yang hijau dan sehat. Konsep Green Campus yang diusung bukan sekadar memperbanyak tanaman, melainkan mengintegrasikan teknologi ramah lingkungan ke dalam infrastruktur pendidikan.

Beberapa langkah konkret yang telah dilakukan Untirta meliputi pembangunan gedung dengan pola hemat energi. Tata ruang gedung didesain sedemikian rupa agar cahaya matahari dapat masuk secara bebas pada siang hari, sehingga meminimalisir penggunaan lampu listrik. Selain itu, penggunaan panel surya juga mulai dioptimalkan sebagai sumber energi alternatif yang berkelanjutan.

Tidak hanya dari sisi infrastruktur, manajemen sampah di lingkungan kampus juga diperketat dengan memperbanyak titik tempat sampah untuk memastikan tidak ada sampah yang terbuang sembarangan. Transformasi fisik ini diharapkan dapat diikuti dengan transformasi perilaku dari seluruh civitas akademika.

Meski semangat kolaborasi ini sangat tinggi, pihak universitas mengakui bahwa mengubah pola pikir ribuan mahasiswa bukanlah perkara mudah. Tantangan terbesar terletak pada konsistensi dan pemahaman mendalam mengenai urgensi menjaga lingkungan.

Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan dan Kerja Sama Untirta, Deden Hery Hermawan, menyampaikan bahwa edukasi lingkungan harus dilakukan secara terus-menerus dan tidak bisa instan. Kolaborasi dengan pihak swasta seperti Chandra Asri dipandang sebagai katalisator untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan.

“Terkait tantangan tidak semua mahasiswa mengerti lingkungan, kita harus terus berjalan dan waktu nya tidak sebentar, bagaimana kita cinta lingkungan, ramah lingkungan, supaya mahasiswa bisa berkolaborasi bagaimana lingkungan yang bersih itu. Ini bisa menimbulkan niat baik dan gairah kecintaan kita kepada lingkungan,” ucap Deden Hery Hermawan, dilokasi yang sama, Senin 8 Juni 2026.

Melalui Jejak Asri, mahasiswa Untirta diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam isu perubahan iklim, tetapi menjadi garda terdepan yang membawa ide-ide disruptif untuk menyelamatkan lingkungan. Sinergi ini menjadi bukti bahwa ketika dunia korporasi dan pendidikan tinggi bersatu, dampak positif bagi masyarakat dan alam sekitar dapat tercipta lebih cepat dan terukur. (luq)