LINTASBANTEN.CO.ID – Upaya mengurangi sampah dari sumbernya mulai diperluas ke lingkungan pendidikan di Kota Cilegon. Melalui program KOLASE (Kolaborasi Ekonomi Sirkular Kelola Sampah di Sekolah), pengelolaan sampah kini menjangkau 120 sekolah.
Program tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, PT Chandra Asri Pacific Tbk atau Chandra Asri Group, dan Yayasan Bakti Barito.
Berbeda dari pendekatan pengelolaan sampah yang berfokus pada penanganan setelah sampah terkumpul, KOLASE mendorong pemilahan dilakukan sejak dari sumber, yakni lingkungan sekolah.
Perluasan program ini merupakan pengembangan dari pelaksanaan KOLASE yang telah berjalan sejak 2023.
Sebelumnya, pada 2025, program tersebut telah diterapkan di 20 sekolah dan mampu mengelola sekitar 35 ton sampah bersama mitra bank sampah.
Dalam pelaksanaannya, sekolah didorong untuk melakukan pemilahan sampah sebelum material tersebut dikumpulkan dan dikelola lebih lanjut. Pendekatan ini sekaligus memperkenalkan praktik ekonomi sirkular kepada warga sekolah melalui kegiatan yang dilakukan secara langsung.
Untuk mendukung proses tersebut, Chandra Asri Group turut menyediakan sejumlah fasilitas pengelolaan sampah, di antaranya drop box sampah terpilah dan alat pres sampah.
Fasilitas tersebut digunakan untuk membantu sekolah memilah serta mengumpulkan material yang memiliki potensi untuk dikelola kembali melalui jaringan bank sampah.
Direktur Legal, Hubungan Eksternal, dan Ekonomi Sirkular Chandra Asri Group, Edi Rivai, mengatakan keterlibatan dunia usaha dalam pengelolaan sampah menjadi bagian dari upaya mendorong praktik keberlanjutan di lingkungan sekitar perusahaan.
“Sebagai pelaku industri di Kota Cilegon, Chandra Asri Group melihat pentingnya kolaborasi yang mendorong praktik pengelolaan sampah mulai dari sumbernya. Melalui KOLASE kami mendukung sekolah untuk membangun praktik pemilahan sekaligus memperkuat keterhubungan dengan bank sampah,” kata Edi kepada awak media di SMPN 5 Kota Cilegon, Kamis (24/9/2026).
Menurut Edi, perluasan cakupan hingga 120 sekolah dapat meningkatkan jumlah warga sekolah yang terlibat dalam praktik pemilahan sampah. Program tersebut juga didukung 11 mitra bank sampah yang berperan dalam proses pengumpulan dan pengelolaan material yang telah dipilah.
“Dengan melibatkan 120 sekolah, KOLASE memiliki potensi untuk memperluas praktik pemilahan sampah kepada lebih banyak warga sekolah, memberikan manfaat ekonomi dengan pelibatan 11 mitra bank sampah, sekaligus mengurangi timbulan sampah yang berakhir di TPA,” ujarnya.
Peran sekolah dalam program ini tidak hanya berkaitan dengan penyediaan tempat pemilahan sampah. Lingkungan pendidikan juga diarahkan menjadi ruang untuk mengenalkan kebiasaan pengelolaan sampah kepada siswa dan warga sekolah secara berkelanjutan.
Direktur Yayasan Bakti Barito, Dian A. Purbasari, mengatakan lingkungan sekolah dapat menjadi ruang untuk membentuk kebiasaan pengelolaan sampah sejak dini.
“Melalui KOLASE, sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk belajar mengenai pentingnya memilah sampah, tetapi menjadi ruang untuk mempraktikkan pengelolaan sampah secara langsung dan melihat manfaatnya,” kata Dian.
Dukungan Yayasan Bakti Barito terhadap KOLASE dilakukan melalui program Green Guardians. Program tersebut diarahkan untuk menghubungkan pembelajaran di sekolah dengan praktik ekonomi sirkular, termasuk mengenalkan potensi nilai ekonomi dari material yang dikelola.
Sementara itu, Wali Kota Cilegon Robinsar menilai persoalan sampah tidak dapat ditangani hanya oleh satu pihak. Menurutnya, dunia pendidikan juga memiliki peran dalam membangun kebiasaan pengelolaan sampah.
“Persoalan sampah merupakan tantangan pembangunan yang harus kita hadapi bersama. Kota Cilegon menilai adanya urgensi untuk mengubah cara pandang terhadap sampah dengan mengelolanya sejak dari sumber, melalui pemilahan, pemanfaatan kembali, hingga pengoptimalan nilai ekonominya,” ujar Robinsar.
Kepala DLH Kota Cilegon, Sabri, mengatakan 120 sekolah yang saat ini terlibat merupakan sekolah yang telah menunjukkan komitmen untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Program tersebut juga masih terbuka bagi sekolah lain yang memiliki komitmen dan berminat untuk ikut serta. Dengan demikian, cakupan pengelolaan sampah berbasis sekolah di Kota Cilegon berpotensi terus diperluas.
Perluasan KOLASE menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis sumber tidak hanya dilakukan melalui infrastruktur persampahan, tetapi juga melalui perubahan kebiasaan di lingkungan masyarakat.
Dengan melibatkan sekolah, bank sampah, pemerintah daerah, dan dunia usaha, pemilahan sampah dapat dilakukan lebih dekat dengan sumbernya sekaligus membuka jalur pengelolaan material yang masih memiliki nilai guna maupun ekonomi. (luq)
Wali







